Wednesday, November 9, 2016

Cerpen: Cinta Bukan Rencana


4 tahun telah berlalu. Aku berhasil melupakannya. Namun akankah  aku berhasil untuk kisah cinta yg baru atau malah menutup diriku karena takut terluka seperti kenangan lama?? Ah entahlah, aku tak ingin menyibukkan diri untuk memikirkannya. Seperti mengisi TTS, bagiku ini masih kolom kosong yg belum terpikir jawabannya olehku.
~*~
Sinar mentari pagi yg menerobos masuk lewat jendela kecil sudut kamarku,memaksa ku terbangun. Suara alarm yg tak sengaja ku atur semalam pun seakan ikut mendukung kilauan sinar sang mentari untuk membuatku terbangun.


"Ah rupanya kalian selalu sekongkol untuk mengakhiri mimpi-mimpi indahku"gumamku, seraya meraih handphone dan mematikan alarm.
Aku bergegas mandi dan setelah itu bergegas menuju gerbang masa depan alias sekolahan, hehe . Karena ini hari pertama masuk sekolah, setelah libur tahun baru yang lumayan panjang, rasanya jantungku deg-degan. Selain kangen sama temen sekelas, aku juga nggak sabar ingin bertemu dengannya. Yah walaupun rasanya belum berani berurusan dengan kata misterius anak remaja yaitu "jatuh cinta" tapi aku yakin suatu saat, ditolak maupun tidak ia akan hadir dengan sendirinya. Yasudahlah coba belajar hidup dengan ilmu hujan deh, " walau tau akan terjatuh,tapi tak akan pernah takut."
Saking fokusnya ngelamun sampai-sampai aku nggak sadar kalo udah nyampe depan gerbang masa depan. Tiba" ayahku berhenti dan membuyarkan lamunanku. Aku langsung turun dari sepeda motor lalu segera berpamitan seperti biasanya. Beberapa langkah memasuki gerbang, seseorang menyapaku dengan suara yg khas seperti bisikan roh halus, "hai, selamat pagi" bisiknya. Spontan langkahku terhenti dan menoleh kebelakang. Senyumanku langsung membalas senyuman yang dapat kutangkap dari kedua bola matanya. Aku sedikit tersipu sambil terdiam. Ah berlebihan pikirku, membiasakan diri agar tidak terulang hal yang sama untuk kesekian kalinya. Bukannya aku tak mau, hanya belum ‎​siap.
Namanya Adan. Aku baru mengenalnya melalui socmed, 1 bulan yang lalu. Awalnya aku tak tahu kalau ia satu sekolah denganku,namun karena sering mengobrol via bbm kita bisa saling mengenal satu sama lain. Ya, masih dalam batas perkenalan bagiku.
Berjalan ke kelas dengannya selama15 menit? Rasanya jantungku seperti habis lari marathon sejauh 100 km,gak karuann. Sebelumnya ia sering ingin mengantar-jemput ku, tapi untung saja jarak rumahku dengannya yang jauh bisa kupakai alasan untuk menolaknya. Aku sering menghindar saat bertemu dengannya. Jujur aku masih takut memulainya, tapi aku tak langsung menjauh. Masih dalam batas wajar.
Untungnya tak sehening suasana jalanan pukul 12 malam,aku memiliki obrolan yg menarik dengannya. Selain kita memiliki beberapa film favorit yg sama, hobby ku di bidang musik juga sama dengannya. Dari sinilah kita saling bertukar pendapat dan 15 menit pun berlalu secepat lari cinderella yang meninggalkan pangeran tepat pada pukul 12 malam,pikirku.  
Karena berbeda kelas, kita berpisah di dekat kelasku. Senyumnya yang khas mengakhiri obrolan kita pagi ini, lagi-lagi membuatku tersipu.
"Andai aja aku bisa membuatmu lupa caranya tersenyum, karena jantungku yg selalu jadi korban dari senyumanmu itu tau"gumamku kesal.
"Walau begitu senyum mu tak bisa menutupi perasaanmu padanya." Ujar cadar padaku. Ah aku makin salah tingkah  sambil masuk kelas.
Di kelas sedang ramai cerita liburan tahun baru kemarin, apalagi ada yang membawakan oleh-oleh untuk ku. "Waww,terimakasih.. Sering-sering ya hehe" kataku pada resa,teman curhatku dikelas. "Eitss jangan seneng dulu, hari gini mana ada yg gratis" ledek resa.
~*~
Bunyi bel pulang sekolah terdengar, seluruh siswa berhamburan pulang. Ponselku berbunyi, ternyata dari Adan.
Via bbm :
"PING!!!"
"Iya dan?"
"Udah pulang?"
"Blm"
"Masih ngapain?"
"Biasa,tunggu jemputan"
"Oh yaudah ati2 ya, aku futsal dulu"
"Iya"
Itulah beberapa pesan singkat kita setiap hari via bbm,sms,juga telfon. Tapi tak jarang aku me-reject telfon darinya. Kadang aku tak tega, tapi aku juga belum berani mengambil resiko terlalu jauh. Rasa nyaman itu benar ada, tapi aku masih menjaga jarak dengannya.
"Ciee yang makin lama makin lengket kayak upil" ledek Resa yang ternyata dari tadi melirik chat ku dengan Adan.
"Ah jelek amat sih diibaratin upil, udahlah bentengku masih kuat kok. Aku yakin." sahutku.
"Haha semoga ajalah. Btw kenapa nggak diterima aja sih, susah banget buka perasaan buat Adan."
"Entahlah res, aku pulang dulu ya. Udah dijemput didepan. Bye" jawabku singkat.
Aku tau Resa mendukung hubunganku dengan Adan, karena ia sahabat Adan dari kecil. Adan mendapat pin bbm ku juga dari Resa.
"Kalau aku udah sayang sama seseorang, aku bakal perjuangin dia sampai dapat. Aku bakal terima dia apa adanya.Percayalah". Kutipan pesan Adan via bbm itu pernah menggoyahkan benteng perasaanku. Tapi untungnya keping runtuhan itu kembali tertata rapi. Aku sadar ini belum saatnya.
~*~
Lima bulan berlalu. Hubunganku dengannya semakin dekat. Aku tau hal yang paling istimewa dari cinta,ialah perasaan itu sendiri. Hal yang tak dapat dilukis dengan kuas, sulit di sulam menjadi puisi, dan tak bisa dijelaskan oleh mesin canggih sekalipun. Namun aku masih tak berani menyalakan api walau dengan korek kayu. Aku masih takut membakar filosofi cinta dalam hidupku.
Ponselku berdering, Adan menelfonku malam-malam. Aku berniat "kura-kura dalam perahu" tapi hati ini seolah bertekad menghentikan niatku, hingga akhirnya aku mengangkat telfonnya.
"Hai, maaf baru bisa ngabarin" mulainya.
"Iya, lagian ga ngabarin juga gak masalah toh juga bukan siapa-siapa" gumamku pelan.
"Apa? Ga denger nih, ulangi dong.. Sinyal lagi naik turun. Padahal udah di loteng rumah" jawabnya.
"Hah?? Seriusan? Ngapain? Gak lagi galau kan? Turun deh" ujarku sedikit meledek.
"Iya nih lagi galau nunggu jawaban dari kamu, berasa pengen loncat. Hehe"
"Hmmm tuhkan gombal. Btw ada apa?"
"Hehe.. Emang telfon kamu harus ada alasan yang jelas ya? Btw lagi ngapain?"
"Enggak juga. Ini kan udah jam kebo ngiler,hehe.. Lagi nyelesain tugas, mau bantu?". Kata "kebo" kukatakan mantap di telinganya lewat telfon, karena ia memang tukang tidur bagiku.
"Duh kesindir deh. Boleh lah kalo buat kamu jangankan tugas,ngadepin guru killer pun aku mau hehe" gombalnya.
"Duh peka banget ya. Dibayar berapa sih bang sampe nekat kayak gitu,wkwk" ledekku.
Aku tak ingin mengakhiri pembicaraan dengannya malam ini. Tak seperti biasanya, aku selalu mencari alasan agar bisa mematikan telfon saat ia sedang asyik mengobrol denganku. Bukan karena ia membantuku browsing referensi untuk tugasku. Aku yakin ada alasan lain yang disembunyikan oleh perasaanku.~*~
"Lain kali kalau mau tidur bilang ya, jangan ninggalin.. Kan sia-sia" ujarnya disampingku sambil mengelus kepalaku pelan, mengejutkanku.
"Eh,. Iya deh maaf" ujarku terkejut,tersipu, membuat jantungku naik roller coaster untuk kesekian kalinya.
"Andai semalam kamu masih bangun, mungkin kita bisa duet" tatapannya dalam banget kali ini.
"Aku bisa merasakannya dan"gumamku dalam hati.
Belum sempat aku menjawab, Adan sudah terburu-buru masuk kelas. Belum jauh aku melangkah, pesan singkat dari Adan mengajakku keluar hari ini sepulang sekolah membuatku bingung. Tanpa berfikir panjang aku langsung menolaknya. Aku sering menolak ajakannya entah dengan alasan yang nyata atau hanya alasan semu. ~*~
"Kau tau ketakutanmu kali ini berlebihan. Kau telah menyia-nyiakan orang yang sayang padamu, hargain sob. Usaha dia yang selalu ngasih yang terbaik buat kamu,nyemangatin kamu,selalu ada buat kamu, maafin kamu walau dengan kesalahan yang sama. Percayalah,berjuang tak sebecanda itu kawan" ujar Resa serius. 
"Iya iya aku tau, tapi aku juga tak ingin mengulang untuk kesekian kalinya. Sakit res.. Aku percaya, dia yang tulus mencintaiku tidak akan pernah meninggalkanku. Karena walau ada seribu alasan untuk menyerah, ia akan menemukan satu alasan untuk bertahan." Tegasku sedikit meneteskan air mata.
"Tapi sampai kapan? Oke kau ingin menemukan orang yang tepat. Tapi bagaimana kau bisa mengerti jika kau hanya membuka pintu hatimu selebar kuku ibu jarimu. Dengar ya kau akan kehilangan orang yang istimewa, saat kau sibuk mencari yang sempurna. Nobody perfect! " ungkap Resa seraya pergi meninggalkanku sendiri.
"Dalam raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu tergenggam kunci pintunya. Hanya kau yang bisa membukanya. Apa kau masih ingat sejauh mana pengorbanan yang telah Adan lakukan untukmu?!"
Pesan singkat itu sontak membuatku tersadar. Adan pernah datang 30 menit lebih awal ke sekolah untuk membawakan topi yang kupinjam darinya. Ia juga pernah kembali kesekolah saat sudah sampai rumah untukku, menyusulku ke luar kota dalam keadaan hujan, menungguku disekolah dalam jangka waktu yang tak sebentar, menghiburku lewat petikan gitar dan suaranya saat malam hari dimana seharusnya ia melepas penat seharian karena aktivitas yang padat.
"Arrgghhhh semua itu untukku! Benarkah kali ini aku sangat bodoh telah melewatkan kilau cinta yang nyata berada tepat didepanku?!".Seperti guncangan gempa di bumi, hati ku terguncang,bibirku gemetar,air mataku tak sanggup lagi terbendung. Kuraih ponselku, aku ingin bertemu dengan Adan saat ini juga. Belum sempat aku menelfon, pesan lanjutan dari Resa hadir mendukung tangis di mataku, "apa kau tau,ajakan Adan yg kau tolak tadi pagi disekolah? Sangat mengecewakannya. Hari ini adalah hari spesial untuknya yang hanya ingin ia habiskan bersamamu. Kau menghancurkan semuanya. Jangan berharap banyak, karena sekali lagi BERJUANG TAK SEBECANDA ITU"
~*~
Aku terlambat, segalanya telah berubah. Kertas telah menjadi abu. Benar kata pepatah "Seseorang yang istimewa, akan kalah dengan yang selalu ada". Aku bodoh! Sangat bodoh! Aku sibuk mengobati luka ku hingga tak sadar telah menggores luka baru pada seseorang yang membantuku menyembuhkan luka ku. Posisiku telah terganti sejak saat itu, saat seseorang diam-diam membuat Adan merasa lebih spesial saat aku tak ada waktu untuknya. Termasuk saat hari ulang tahunnya kemarin. Saat ini aku hanya bisa mengenangnya. Aku tau ini salahku, aku tak bisa berbuat banyak. Menangis pun rasanya sudah tak mampu. Kejadian hari itu kepastian terpahit yang Adan beri untukku, yang bahkan untuk membayangkannya pun rasanya sangat sakit. ~*~
"Makasih untuk kiriman kue yang ku tau takkan sanggup mewakili senyuman terindah dimatamu untuk mengirimnya" pesan singkat Adan via bbm, setelah aku mengirim kue dan kado kecil untuknya.
"Aku tau, itu hanya bingkisan sederhana dari sekian banyak hadiah spesial dari orang-orang yang menyayangimu. Tapi aku tak mampu mengungkapkan perasaanku melalui hadiah karena akan sangat mahal hingga aku sendiri pun takkan mampu mendapatkannya" balasku dengan perasaan lega, karena ternyata ia tak marah padaku.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Adan singkat.
"Rasa nyaman seperti dilindungi puluhan body guard dan kehangatan tertidur dalam selimut sutra yang sangat halus dikelilingi oleh puluhan tangkai mawar saat musim salju tiba. Aku baru tersadar akan hal itu. Apa aku terlambat?" ungkapan hati ku ku kirim padanya.
"Jujur aku takut menyakitimu,aku tak mampu melihat air matamu yg terjatuh seakan menamparku. Tapi aku harus mengatakannya. Semua sudah terlambat sayang. Maafkan aku." Balasnya, bagai rangkaian puisi pahit yang sangat cantik tertata hingga membutakan pembacanya untuk memaknai yang sesungguhnya.
"Cukup. Aku tak ingin membalasnya. Sudah cukup, dengan luka yang sama untuk yang ke sekian kalinya" teriakku dalam hati. Jangan tanyakan tangisku, tanpa kuminta ia telah berhamburan keluar berebut membasahi baju ku.
Inilah aku, aku tak mudah mencintai seseorang. Namun saat aku telah memulainya takkan mudah untuk kulepaskannya. Cinta itu anugerah dari tuhan,hanya itu yang kutau. Bukankah anugerah dari ‎​tuhan itu indah? Maka akan sangat berdosa jika aku mempermainkannya. Simple nya cinta bukan hal yang main-main, juga tidak terlalu serius. Seperti layangan, ditarik-ulur.
~*~

"Jangan baru mencari saat sudah terlanjur pergi, jangan baru mengejar saat sudah jauh berlari. Menunggu tak seasyik itu" ~Irine

No comments:

Post a Comment