4 tahun telah berlalu. Aku berhasil melupakannya. Namun
akankah aku berhasil untuk kisah cinta
yg baru atau malah menutup diriku karena takut terluka seperti kenangan lama??
Ah entahlah, aku tak ingin menyibukkan diri untuk memikirkannya. Seperti
mengisi TTS, bagiku ini masih kolom kosong yg belum terpikir jawabannya olehku.
~*~
Sinar mentari pagi yg menerobos masuk lewat jendela kecil
sudut kamarku,memaksa ku terbangun. Suara alarm yg tak sengaja ku atur semalam
pun seakan ikut mendukung kilauan sinar sang mentari untuk membuatku terbangun.
"Ah rupanya kalian selalu sekongkol untuk mengakhiri
mimpi-mimpi indahku"gumamku, seraya meraih handphone dan mematikan alarm.
Aku bergegas mandi dan setelah itu bergegas menuju
gerbang masa depan alias sekolahan, hehe . Karena ini hari pertama masuk
sekolah, setelah libur tahun baru yang lumayan panjang, rasanya jantungku
deg-degan. Selain kangen sama temen sekelas, aku juga nggak sabar ingin bertemu
dengannya. Yah walaupun rasanya belum berani berurusan dengan kata misterius
anak remaja yaitu "jatuh cinta" tapi aku yakin suatu saat, ditolak
maupun tidak ia akan hadir dengan sendirinya. Yasudahlah coba belajar hidup
dengan ilmu hujan deh, " walau tau akan terjatuh,tapi tak akan pernah takut."
Saking fokusnya ngelamun sampai-sampai aku nggak sadar
kalo udah nyampe depan gerbang masa depan. Tiba" ayahku berhenti dan
membuyarkan lamunanku. Aku langsung turun dari sepeda motor lalu segera
berpamitan seperti biasanya. Beberapa langkah memasuki gerbang, seseorang
menyapaku dengan suara yg khas seperti bisikan roh halus, "hai, selamat
pagi" bisiknya. Spontan langkahku terhenti dan menoleh kebelakang.
Senyumanku langsung membalas senyuman yang dapat kutangkap dari kedua bola
matanya. Aku sedikit tersipu sambil terdiam. Ah berlebihan pikirku, membiasakan
diri agar tidak terulang hal yang sama untuk kesekian kalinya. Bukannya aku tak
mau, hanya belum siap.
Namanya Adan. Aku baru mengenalnya melalui socmed, 1
bulan yang lalu. Awalnya aku tak tahu kalau ia satu sekolah denganku,namun
karena sering mengobrol via bbm kita bisa saling mengenal satu sama lain. Ya,
masih dalam batas perkenalan bagiku.
Berjalan ke kelas dengannya selama15 menit? Rasanya
jantungku seperti habis lari marathon sejauh 100 km,gak karuann. Sebelumnya ia
sering ingin mengantar-jemput ku, tapi untung saja jarak rumahku dengannya yang
jauh bisa kupakai alasan untuk menolaknya. Aku sering menghindar saat bertemu
dengannya. Jujur aku masih takut memulainya, tapi aku tak langsung menjauh.
Masih dalam batas wajar.
Untungnya tak sehening suasana jalanan pukul 12 malam,aku
memiliki obrolan yg menarik dengannya. Selain kita memiliki beberapa film
favorit yg sama, hobby ku di bidang musik juga sama dengannya. Dari sinilah
kita saling bertukar pendapat dan 15 menit pun berlalu secepat lari cinderella
yang meninggalkan pangeran tepat pada pukul 12 malam,pikirku.
Karena berbeda kelas, kita berpisah di dekat kelasku.
Senyumnya yang khas mengakhiri obrolan kita pagi ini, lagi-lagi membuatku
tersipu.
"Andai aja aku bisa membuatmu lupa caranya
tersenyum, karena jantungku yg selalu jadi korban dari senyumanmu itu
tau"gumamku kesal.
"Walau begitu senyum mu tak bisa menutupi perasaanmu
padanya." Ujar cadar padaku. Ah aku makin salah tingkah sambil masuk kelas.
Di kelas sedang ramai cerita liburan tahun baru kemarin,
apalagi ada yang membawakan oleh-oleh untuk ku. "Waww,terimakasih..
Sering-sering ya hehe" kataku pada resa,teman curhatku dikelas.
"Eitss jangan seneng dulu, hari gini mana ada yg gratis" ledek resa.
~*~
Bunyi bel pulang sekolah terdengar, seluruh siswa
berhamburan pulang. Ponselku berbunyi, ternyata dari Adan.
Via bbm :
"PING!!!"
"Iya
dan?"
"Udah
pulang?"
"Blm"
"Masih
ngapain?"
"Biasa,tunggu
jemputan"
"Oh
yaudah ati2 ya, aku futsal dulu"
"Iya"
Itulah beberapa pesan singkat kita setiap hari via bbm,sms,juga
telfon. Tapi tak jarang aku me-reject telfon darinya. Kadang aku tak tega, tapi
aku juga belum berani mengambil resiko terlalu jauh. Rasa nyaman itu benar ada,
tapi aku masih menjaga jarak dengannya.
"Ciee
yang makin lama makin lengket kayak upil" ledek Resa yang ternyata dari
tadi melirik chat ku dengan Adan.
"Ah
jelek amat sih diibaratin upil, udahlah bentengku masih kuat kok. Aku
yakin." sahutku.
"Haha
semoga ajalah. Btw kenapa nggak diterima aja sih, susah banget buka perasaan
buat Adan."
"Entahlah
res, aku pulang dulu ya. Udah dijemput didepan. Bye" jawabku singkat.
Aku tau
Resa mendukung hubunganku dengan Adan, karena ia sahabat Adan dari kecil. Adan
mendapat pin bbm ku juga dari Resa.
"Kalau
aku udah sayang sama seseorang, aku bakal perjuangin dia sampai dapat. Aku
bakal terima dia apa adanya.Percayalah". Kutipan pesan Adan via bbm itu
pernah menggoyahkan benteng perasaanku. Tapi untungnya keping runtuhan itu
kembali tertata rapi. Aku sadar ini belum saatnya.
~*~
Lima bulan berlalu. Hubunganku dengannya semakin dekat.
Aku tau hal yang paling istimewa dari cinta,ialah perasaan itu sendiri. Hal
yang tak dapat dilukis dengan kuas, sulit di sulam menjadi puisi, dan tak bisa
dijelaskan oleh mesin canggih sekalipun. Namun aku masih tak berani menyalakan
api walau dengan korek kayu. Aku masih takut membakar filosofi cinta dalam
hidupku.
Ponselku berdering, Adan menelfonku malam-malam. Aku
berniat "kura-kura dalam perahu" tapi hati ini seolah bertekad
menghentikan niatku, hingga akhirnya aku mengangkat telfonnya.
"Hai,
maaf baru bisa ngabarin" mulainya.
"Iya,
lagian ga ngabarin juga gak masalah toh juga bukan siapa-siapa" gumamku
pelan.
"Apa?
Ga denger nih, ulangi dong.. Sinyal lagi naik turun. Padahal udah di loteng
rumah" jawabnya.
"Hah??
Seriusan? Ngapain? Gak lagi galau kan? Turun deh" ujarku sedikit meledek.
"Iya
nih lagi galau nunggu jawaban dari kamu, berasa pengen loncat. Hehe"
"Hmmm
tuhkan gombal. Btw ada apa?"
"Hehe..
Emang telfon kamu harus ada alasan yang jelas ya? Btw lagi ngapain?"
"Enggak
juga. Ini kan udah jam kebo ngiler,hehe.. Lagi nyelesain tugas, mau
bantu?". Kata "kebo" kukatakan mantap di telinganya lewat
telfon, karena ia memang tukang tidur bagiku.
"Duh
kesindir deh. Boleh lah kalo buat kamu jangankan tugas,ngadepin guru killer pun
aku mau hehe" gombalnya.
"Duh
peka banget ya. Dibayar berapa sih bang sampe nekat kayak gitu,wkwk"
ledekku.
Aku tak ingin mengakhiri pembicaraan dengannya malam ini.
Tak seperti biasanya, aku selalu mencari alasan agar bisa mematikan telfon saat
ia sedang asyik mengobrol denganku. Bukan karena ia membantuku browsing
referensi untuk tugasku. Aku yakin ada alasan lain yang disembunyikan oleh
perasaanku.~*~
"Lain
kali kalau mau tidur bilang ya, jangan ninggalin.. Kan sia-sia" ujarnya
disampingku sambil mengelus kepalaku pelan, mengejutkanku.
"Eh,.
Iya deh maaf" ujarku terkejut,tersipu, membuat jantungku naik roller
coaster untuk kesekian kalinya.
"Andai
semalam kamu masih bangun, mungkin kita bisa duet" tatapannya dalam banget
kali ini.
"Aku
bisa merasakannya dan"gumamku dalam hati.
Belum sempat aku menjawab, Adan sudah terburu-buru masuk
kelas. Belum jauh aku melangkah, pesan singkat dari Adan mengajakku keluar hari
ini sepulang sekolah membuatku bingung. Tanpa berfikir panjang aku langsung
menolaknya. Aku sering menolak ajakannya entah dengan alasan yang nyata atau
hanya alasan semu. ~*~
"Kau
tau ketakutanmu kali ini berlebihan. Kau telah menyia-nyiakan orang yang sayang
padamu, hargain sob. Usaha dia yang selalu ngasih yang terbaik buat
kamu,nyemangatin kamu,selalu ada buat kamu, maafin kamu walau dengan kesalahan
yang sama. Percayalah,berjuang tak sebecanda itu kawan" ujar Resa
serius.
"Iya
iya aku tau, tapi aku juga tak ingin mengulang untuk kesekian kalinya. Sakit
res.. Aku percaya, dia yang tulus mencintaiku tidak akan pernah meninggalkanku.
Karena walau ada seribu alasan untuk menyerah, ia akan menemukan satu alasan
untuk bertahan." Tegasku sedikit meneteskan air mata.
"Tapi
sampai kapan? Oke kau ingin menemukan orang yang tepat. Tapi bagaimana kau bisa
mengerti jika kau hanya membuka pintu hatimu selebar kuku ibu jarimu. Dengar ya
kau akan kehilangan orang yang istimewa, saat kau sibuk mencari yang sempurna.
Nobody perfect! " ungkap Resa seraya pergi meninggalkanku sendiri.
"Dalam
raga ada hati, dan dalam hati, ada satu ruang tak bernama. Di tanganmu
tergenggam kunci pintunya. Hanya kau yang bisa membukanya. Apa kau masih ingat
sejauh mana pengorbanan yang telah Adan lakukan untukmu?!"
Pesan singkat itu sontak membuatku tersadar. Adan pernah
datang 30 menit lebih awal ke sekolah untuk membawakan topi yang kupinjam
darinya. Ia juga pernah kembali kesekolah saat sudah sampai rumah untukku,
menyusulku ke luar kota dalam keadaan hujan, menungguku disekolah dalam jangka
waktu yang tak sebentar, menghiburku lewat petikan gitar dan suaranya saat
malam hari dimana seharusnya ia melepas penat seharian karena aktivitas yang
padat.
"Arrgghhhh
semua itu untukku! Benarkah kali ini aku sangat bodoh telah melewatkan kilau
cinta yang nyata berada tepat didepanku?!".Seperti guncangan gempa di
bumi, hati ku terguncang,bibirku gemetar,air mataku tak sanggup lagi
terbendung. Kuraih ponselku, aku ingin bertemu dengan Adan saat ini juga. Belum
sempat aku menelfon, pesan lanjutan dari Resa hadir mendukung tangis di mataku,
"apa kau tau,ajakan Adan yg kau tolak tadi pagi disekolah? Sangat
mengecewakannya. Hari ini adalah hari spesial untuknya yang hanya ingin ia
habiskan bersamamu. Kau menghancurkan semuanya. Jangan berharap banyak, karena
sekali lagi BERJUANG TAK SEBECANDA ITU"
~*~
Aku terlambat, segalanya telah berubah. Kertas telah
menjadi abu. Benar kata pepatah "Seseorang yang istimewa, akan kalah
dengan yang selalu ada". Aku bodoh! Sangat bodoh! Aku sibuk mengobati luka
ku hingga tak sadar telah menggores luka baru pada seseorang yang membantuku
menyembuhkan luka ku. Posisiku telah terganti sejak saat itu, saat seseorang
diam-diam membuat Adan merasa lebih spesial saat aku tak ada waktu untuknya.
Termasuk saat hari ulang tahunnya kemarin. Saat ini aku hanya bisa
mengenangnya. Aku tau ini salahku, aku tak bisa berbuat banyak. Menangis pun
rasanya sudah tak mampu. Kejadian hari itu kepastian terpahit yang Adan beri
untukku, yang bahkan untuk membayangkannya pun rasanya sangat sakit. ~*~
"Makasih
untuk kiriman kue yang ku tau takkan sanggup mewakili senyuman terindah
dimatamu untuk mengirimnya" pesan singkat Adan via bbm, setelah aku
mengirim kue dan kado kecil untuknya.
"Aku
tau, itu hanya bingkisan sederhana dari sekian banyak hadiah spesial dari
orang-orang yang menyayangimu. Tapi aku tak mampu mengungkapkan perasaanku
melalui hadiah karena akan sangat mahal hingga aku sendiri pun takkan mampu mendapatkannya"
balasku dengan perasaan lega, karena ternyata ia tak marah padaku.
"Apa
kau mencintaiku?" Tanya Adan singkat.
"Rasa
nyaman seperti dilindungi puluhan body guard dan kehangatan tertidur dalam
selimut sutra yang sangat halus dikelilingi oleh puluhan tangkai mawar saat
musim salju tiba. Aku baru tersadar akan hal itu. Apa aku terlambat?"
ungkapan hati ku ku kirim padanya.
"Jujur
aku takut menyakitimu,aku tak mampu melihat air matamu yg terjatuh seakan
menamparku. Tapi aku harus mengatakannya. Semua sudah terlambat sayang. Maafkan
aku." Balasnya, bagai rangkaian puisi pahit yang sangat cantik tertata
hingga membutakan pembacanya untuk memaknai yang sesungguhnya.
"Cukup.
Aku tak ingin membalasnya. Sudah cukup, dengan luka yang sama untuk yang ke
sekian kalinya" teriakku dalam hati. Jangan tanyakan tangisku, tanpa
kuminta ia telah berhamburan keluar berebut membasahi baju ku.
Inilah aku, aku tak mudah mencintai seseorang. Namun saat
aku telah memulainya takkan mudah untuk kulepaskannya. Cinta itu anugerah dari
tuhan,hanya itu yang kutau. Bukankah anugerah dari tuhan itu indah? Maka akan
sangat berdosa jika aku mempermainkannya. Simple nya cinta bukan hal yang
main-main, juga tidak terlalu serius. Seperti layangan, ditarik-ulur.
~*~
"Jangan
baru mencari saat sudah terlanjur pergi, jangan baru mengejar saat sudah jauh
berlari. Menunggu tak seasyik itu" ~Irine
No comments:
Post a Comment